Jumat, 01 Oktober 2010

GAMBAR TUHAN YESUS










3 komentar:

  1. Allah menganugerakan kepada setiap orang itu talenta masing-masing orang talenta; sesuai dengan itu kami melakukan segala sesuatu tetapi karena kami manusia tidak tahu apa-apa sehingga kami sombong kemampuan intelektual kami, seharusnya kami tidak boleh sombong untuk perbuatan kami karena semuanya itu Tuhan yang berikan kepada kami unutk mengembangkan dunia ini. dan Tuhan Yesus senidri juga tidak membatasi hal ini Tuhan Yesus bilang melakukan tetapi jangan melupakan aku dan bapa karena Rencana bapaku semuanya demikian Nasihat Tuhan Yesus Kepada murid-murid demikian.

    BalasHapus
  2. Awalnya aku lulus dari sebuah sekolah menengah atas.pada saat itu aku bingung harus melanjutkan kemana? Apakah aku harus melanjutkan kuliah atau bekerja. Pada saat seperti itu banyak tawaran yang menghampiriku.Salah satu seorang pamanku yang cukup dekat denganku menawarkanku untuk kuliah saja.maklum diasangat sadar akan pentingnya pendidikan bagi seseorang.”sebaiknya kamu kuliah saja”katanya padaku.”tidak lah om, aku kasihan pada orang tuaku” jawabku dengan hati yang sedikit riuh, karna sesungguhnya akupun juga ingin melanjudkan pendidikanku.tapi aku kasihan kepada orang tuaku jika harus memikirkan ku terus.”kamu jangan kawatir ada temanku yang bisa membantumu mencarikan beasiswa,besok aku kenalkan pada temanku itu” tapi aku sungguh tak ingin memberatkan orang tuaku lagi om…?”jawabku,lalu om menyahut “kamu jangan pikirkan itu lagi,sekarang yang harus kamu pikirkan adalah masa depanmu kelak..”,,”baiklah om kalau emang itu bisa membantuku”
    jawabku dengn sedikit berharap itu bisa membantuku dan tidak memberatkan orang tuaku.

    BalasHapus
  3. Sudah hampir lima tahun kegiatan sensus berjalan. Pengalaman-pengalaman menarik saya temukan di lapangan. Beberapa diantaranya malah saya share di blog ini. Banyak hal yang saya peroleh selain cerita-cerita lucu saja. Entah berupa pengalaman maupun cara untuk berhadapan dengan puluhan karakter manusia yang berbeda-beda.
    Seperti halnya yang saya tulis disini, bahwa saya belajar betapa harga diri itu lebih penting ketimbang sekedar materi. Pelajaran ini saya peroleh justru dari seorang emak-emak yang tidak pernah diperhitungkan sama sekali oleh tetangga-tetangganya yang berbeda generasi dengannya. Atau cerita tentang orang yang agak sedikit mempersulit kami ketika melaksanakan listing. Disini saya belajar, ternyata saya harus memiliki kesabaran ekstra jika berhadapan dengan orang-orang yang memiliki aneka ragam karakter.
    Satu hal yang menjadi perenungan saya, bahwa ternyata ada banyak orang yang beruntung daripada saya. Itulah yang menjadi pengingat untuk saya bahwa saya sudah semestinya banyak bersyukur atas apa yang saya capai selama ini. Perenungan ini muncul manakala saya menyensus dari satu keluarga ke keluarga lain yang tinggal di rumah kontrakan dengan anggota keluarga yang tidak sedikit pula. Kondisi kontrakan yang sungguh memprihatinkan, serta pekerjaan sang kepala keluarga yang tidak jelas, membuat saya bersyukur bahwa betapa beruntungnya saya selama ini.

    Adalah satu keluarga pendatang dari volmimpi yang saya selama ini Agaknya saya harus menaruh hormat dan rasa salut saya untuk mereka. Ditengah-tengah ketidak pastikan kondisi ekonomi, sang kepala keluarga yang bernama tobias dengan berani merantau ke kota yang sama sekali tidak dikenal sebelumnya. Mereka mengontrak satu rumah petak yang berukuran mungkin hanya 20 meter persegi yang terdiri atas satu ruangan yang dipakai untuk usaha sekaligus tempat keluarganya berkumpul, sedikit dapur, serta kamar mandi. Mereka tinggal berempat disana. Terdiri daritobias, istrinya, dan dua anaknya yang masih berusia batita.
    Kenapa saya harus menaruh rasa salut kepada tobias? Ya, sebagai keturunan suku Mek,tobias tidak pernah gentar menghadapi kerasnya hidup di kota yang sama sekali tidak dia ketahui. Baru dua tahun dia ada di sini. Dia membuka usaha menimpa ilmu petaknya. Padahal setahu saya, sangat baik .

    BalasHapus